Kisah Tangan Dingin Gunawan, Tolak Uang untuk Lindungi Gaharu

BOLTIM – Lebih dari dua dekade hari-hari Gunawan Kastroredjo (59) diisi oleh segala tetek-bengek membudidayakan Gaharu, pohon yang getahnya dikenal memiliki nilai keekonomisan tinggi dan bahkan mencapai ratusan juta.

Namun, Warga Purworejo, Kecamatan Modayag, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur di Sulawesi Utara itu bukan tengah mengumpulkan pundi-pundi uang. Ia justru berjuang melestarikan jenis pohon yang kini kian langka di Indonesia.

Berawal dari membaca berbagai berita tentang gaharu, dan juga dorongan dari tempatnya bekerja dulu, Gunawan yang dulu bekerja sebagai tenaga pemetaan ini mulai tertarik menanam pohon gaharu.

“Saya mulai menanam sejak tahun 2000, bibitnya didapat dari pengumpul. Saya lalu belajar bagaimana pohon penghasil gaharu ini bisa dibudidaya,” cerita Gunawan, saat ditemui di lahan gaharunya pada pekan lalu.

“Bibit pohon yang saya tanam di lahan ini diambil dari desa Badaro, masih di Modayag,” ujar Gunawan melansir CNNIndonesia.com.

Di Indonesia terdapat tujuh marga pohon penghasil gaharu yaitu Aetoxylon, Aquilaria, Enkleia, Gonystylus, Gyrinops, Phaleria dan Wikstroemia. Pohon dari marga Aquilaria, Gyrinops, dan Gonystylus merupakan jenis yang paling banyak dimanfaatkan.

Gunawan memilih jenis Gyrinops rosbergii.

Jenis ini merupakan salah jenis pohon penghasil gaharu yang menjadi primadona hasil hutan bukan kayu karena memberikan kontribusi besar bagi pasar global.

Gubal gaharu yang mengandung resin khas digunakan dalam industri parfum premium karena baunya yang harum. Selain itu gaharu juga digunakan untuk bahan aroma terapi, sabun, bahan kosmetik dan bahan obat-obatan.

Gaharu telah menjadi komoditi alam yang diperdagangkan dari Nusantara sejak ribuan tahun lalu, terutama ke India, Persia, Jazirah Arab dan Afrika Timur.

Kini di era modern, negara-negara di Eropa, Amerika dan China juga mencari gaharu.

Tak ayal, gaharu dicari oleh pemburu hingga ke pedalaman. Mereka tak jarang menebang secara sembarangan pohon penghasil gaharu untuk menemukan bagian batangnya yang kehitaman dan mengandung gubal berkualitas tinggi.

Cara ini membuat jenis pohon gaharu semakin susah didapat sementara pertumbuhannya di alam semakin sedikit.

Tak Tergoda Menjual

Total tegakan gaharu yang dimiliki oleh Gunawan mencapai 250 pohon. Kesungguhannya menanam gaharu membuat beberapa peneliti dan lembaga riset menjadikan lahannya dan Gyrinops yang ditanamnya jadi objek penelitian.

“Beberapa pohon di lahan ini menjadi objek penelitian. Secara rutin para peneliti datang mengambil data,” kata Gunawan.

Tegakan pohon yang sudah berusia 20 tahun yang kini dimiliki oleh Gunawan itu bernilai sangat tinggi.

Apalagi dengan teknik inokulasi yang dijalankannya sejak lama pasti membuat gubal gaharu yang ada pada pohon yang ditanamnya memiliki harga yang tinggi.

“Pernah ada satu pohon yang rubuh, itu di tahun 2012, kecil saja ukuran pohonnya, tapi mereka membayarnya seharga Rp 20 juta,” ujar Gunawan.

Inokulasi adalah teknik yang digunakan dalam budidaya gaharu. Secara alami Gaharu dihasilkan oleh tanaman sebagai respon dari mikroba yang masuk ke dalam jaringan yang terluka, karena adanya cabang dahan yang patah atau kulit terkelupas.

Mikroba yang masuk ke dalam jaringan tanaman dianggap sebagai benda asing sehingga sel tanaman akan menghasilkan suatu senyawa fitoaleksin yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap penyakit atau patogen.

Senyawa fitoaleksin tersebut dapat berupa resin berwarna coklat dan beraroma harum, serta menumpuk pada pembuluh xilem dan floem untuk mencegah meluasnya luka ke jaringan lain.

Senyawa gaharu dapat menghasilkan aroma yang harum karena mengandung senyawa guia dienal, selina-dienone, dan selina dienol.

Pada budidaya, batang tanaman penghasil gaharu dimasukkan cendawan ke dalamnya dengan teknik inokulasi, yakni mengebor batang pohon dan menyuntik cairan inokulan.

“Sekali suntik lumayan mahal cairannya. Satu pohon bisa beberapa kali suntik,” jelas Gunawan sambil memeragakan teknik melakukan inokulasi.

Pohon Gyrinops yang sudah diinokukasi itulah yang akan menghasilkan gubal gaharu yang bernilai tinggi. Apalagi jika pohonnya berusia cukup tua.

Sebanyak 250 pohon yang dimiliki Gunawan saat ini bisa dikatakan mempunyai nilai ekonomis yang sangat tinggi.

Namun Gunawan, yang selalu mengajak anaknya mendampinginya ke lahan belum tergoda untuk menjual pohon gaharunya.

“Saya sebenarnya menanam ratusan pohon penghasil gaharu ini sebagai bentuk keprihatinan karena semakin susahnya mendapatkan pohon ini di alam. Tujuan utama saya adalah pelestarian, agar jenis pohon ini tetap ada,” ujar pengiat konservasi ini juga.

Tujuan itulah yang membuat Gunawan hanya mau menjual bibit Grynops rosbergii yang ditanamnya. Indukan gaharu Gunawan telah disertifikasi oleh balai benih, sebagai jaminan kualitas.

“Saya telah memenuhi permintaan bibit ke berbagai provinsi hingga ke Jawa, Nusa Tenggara dan berbagai daerah lainnya,” ujar Gunawan yang rumahnya di Purworejo dijejali dengan berbagai tanaman lainnya.

Dengan menjual bibit gaharu itu, Gunawan telah mampu menyekolahkan anaknya dan memenuhi kebutuhan rumah tangga dan kehidupannya.

“Cukuplah bagi saya, asal kebutuhan ekonomi keluarga saya tercukupi. Saya ingin masyarakat di sini tahu bahwa pohon ini bernilai tinggi, dan mereka juga mau menanamnya. Saya dengan senang hati akan berbagi pengalaman, agar pohon ini tetap lestari,” kata Gunawan. (CNNIndonesia.com)

 

 

 

Komentar Disini

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA TERKINI

Puluhan Rumah Warga yang Rusak Akibat Dihantam Angin Kencang akan Diberi Bantuan Stimulus

TERNATE, Beritamalut.co - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kota Ternate, akan berikan bantuan terhadap warga yang rumahnya mengalami kerusakan, akibat diterjang angin kencang pada...

Basarnas Imbau Nelayan Tidak Melaut di Tengah Cuaca Ekstrim

TERNATE, Beritamalut.co - Kepala Badan Pencarian Nasional (Basarnas) kota Ternate Muhamad Arafah, menghimbau masyarakat atau nelayan untuk dapat menunda melakukan aktifitas di laut, di...

Sultan Tidore dan Gubernur Siap Perjuangkan Sofifi sebagai Daerah Kawasan Khusus

TIDORE, Beritamalut.co - Pemerintah Provinsi Maluku Utara terus memperlihatkan keseriusannya untuk mengembangkan Sofifi sebagai Daerah Kawasan Khusus. Hal tersebut setelah Gubernur Maluku Utara Kh, Abdul...

Setelah TMII, 2 Aset Milik Keluarga Soeharto Juga Dikelola Pemerintah

Jakarta - Masih ingat dengan Gedung Granadi dan aset Megamendung milik keluarga Soeharto yang disita negara pada 2018 atas kasus Yayasan Supersemar? Keduanya akan dikelola oleh...

TERPOPULER

Kalimat Khusnul Khatimah atau Husnul Khatimah, yang Tepat Ya?

Jakarta - Masyarakat masih banyak yang ragu memilih kalimat antara khusnul khatimah atau husnul khatimah. Padahal, setiap kata memiliki arti yang berbeda. Biasanya, kalimat khusnul...

“Kupas” PT.Karapoto Bersama OJK dan DPRD

TERNATE,Beritamalut.co-Komisi II DPRD Kota Ternate, Kamis (8/3/2018) gelar pertamuan dengan pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) wilayah Sulawesi Utara, Maluku Utara dan Gorontalo, kemudian dari...

Seorang Mahasiswi Ditemukan Meninggal di Halaman Tempat Tinggalnya

TERNATE, Beritamalut.co - Warga Kelurahan Sasa, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate digegerkan dengan penemuan sesosok mayat jenis kelamin perempuan yang diketahui bernama Aprilita Suryanti...

Ketika Ternate Mendadak Seperti Kota di Eropa

TERNATE, Beritamalut.co-Kota Ternate, dari pagi hingga sore tadi mendadak dipadati turis mancanegara setelah kapal pesiar MS Artania sandar di pelabuhan A. Yani, Ternate, Jumat...

Jembatan Temadore Solusi Jalur Penghubung Ternate-Maitara-Tidore

MAITARA,Beritamalut.co-Konsep pembangunan jembatan penghubung antara pulau Ternate, Maitara dan Tidore (Temadora) dapat menjadi pilihan sebagai jalur penghubung antara tiga daerah itu dan sekitaranya. Inilah yang...

Seorang Ayah di Ternate Barat Tiga Kali Setubuhi Putri Kandungnya

TERNATE, Beritamalut.co - Seorang warga di Kecamatan Ternate Barat inisial R alias Man yang sehari-hari sebagai sopir angkot babak belur diamuk warga, Rabu (14/10/2020)...