Lonceng Tanda Bahaya! Hiu dan Ikan Pari Mulai Hilang dari Lautan

Victoria – Waspada, ikan hiu dan ikan pari mulai menghilang dari lautan dunia dengan cepat. Rantai makanan bisa terganggu.

Dilaporkan BBC, Selasa (2/2/2021), jumlah hiu yang ditemukan di laut terbuka menyusut hingga 71 persen hanya dalam tempo 50 tahun terakhir. Penyebabnya, penangkapan berlebihan.

Gawatnya lagi, tiga perempat spesies hiu yang sedang diteliti masuk daftar terancam punah. Yakni, dari 31 jenis hiu yang diteliti, 24 di antaranya saat ini diambang kepunahan.

Tiga jenis hiu yang paling mengkhawatirkan adalah hiu putih, hiu martil, dan hiu martil besar. Jumlah tiga jenis hiu itu kategori ancaman tertinggi menurut versi International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Peneliti mengimbau agar ada tindakan cepat untuk mengamankan masa depan hiu dan ikan pari. Ikan-ikan itu memiliki fungsi penting dalam rantai makanan. Tim peneliti bahkan menjuluki ikan hiu dan ikan pari itu sebagai hewan luar biasa dan tak tergantikan.

Solusi agar ikan hiu dan ikan pari tidak benar-benar musnah cuma satu: penangkapan ikan dibatasi di seluruh negara di dunia.

“Itulah yang mendorong penurunan hingga 70 persen dalam waktu 50 tahun terakhir. Dari setiap 10 ekor hiu di lautan terbuka pada tahun 1970an, hari ini kamu hanya menemukan tiga ekor saja, dari seluruh spesies ini,” kata salah satu peneliti dari Universitas Exeter, Inggris, Dr Richard Sherley.

Hiu dan ikan pari itu ditangkap untuk diambil daging, sirip, dan minyaknya. Selain itu, ikan-ikan itu ditangkap untuk pemancingan rekreasi atau tersangkut jaring kapal ikan yang sebenarnya tidak menargetkan ikan-ikan itu.

Ancaman Punah Hiu dan Pari Lebih Tinggi dari Burung, Mamalia, dan Katak

Prof Nicholas Dulvy dari Simon Fraser University di British Columbia, Kanada, mengatakan ikan hiu dan pari di laut lepas berada pada risiko kepunahan yang sangat tinggi. Bahkan, jauh lebih parah daripada burung, mamalia, dan katak.

“Penangkapan hiu dan pari yang berlebihan, membahayakan kesehatan ekosistem laut secara keseluruhan, serta ketahanan pangan untuk beberapa negara miskin dunia,” kata dia.

Data itu dikumpulkan dari hiu dan pari yang ditemukan di laut terbuka, bukan seperti hiu karang yang biasanya ditemukan di dekat pantai.

Dari 1.200 jenis hiu dan pari di dunia, 31 di antaranya adalah jenis penjelajah samudra, menempuh jarak yang jauh melintasi perairan.

“Ini adalah jenis predator laut lepas yang besar, penting, dan sangat familiar dengan kehidupan manusia,” kata Dr Sherley.

“Jenis hiu yang mungkin digambarkan orang sebagai yang menakjubkan atau karismatik,” dia menambahkan.

Negara dan Warga Dunia Harus Turun Tangan

Satu-satunya cara ampuh untuk mencegah kepunahan ikan hiu dan pari itu bisa dilakukan. Caranya, dengan kebijakan pemerintah seluruh negara di dunia. Masyarakat juga tidak boleh tinggal diam.

“Ilmu pengetahuan sudah berkontribusi untuk mengukur jumlah mereka. Nah, untuk langkah-langkah mengurangi penangkapan hiu itu harus ada kemauan politik, masyarakat harus turut memberikan tekanan,” jelas Dr Sherley.

Contoh riil adalah populasi hiu putih yang relatif membaik. Itu berdasarkan laporan Shark Advocates International, sebuah proyek nirlaba dari The Ocean Foundation.

“Usaha perlindungan yang relatif sederhana dapat membantu menyelamatkan hiu dan pari, tapi waktunya sudah hampir habis,” kata Sonja Fordham, Presiden dari Shark Advocates International.

“Kami membutuhkan tindakan konservasi di seluruh dunia, untuk mencegah berbagai konsekuensi negatif yang tak terhitung jumlahnya, dan menjamin masa depan yang lebih cerah untuk hewan luar biasa dan tak tergantikan ini.

Bahayanya Jika Hiu dan Ikan Pari Punah

Hiu merupakan pemuncak rantai makanan. So, keberadaannya sangat krusial bagi lautan.

Kepunahan hiu berdampak signifikan terhadap hewan laut lainnya. Padahal, hewan laut itu merupakan sumber makanan bagi manusia.

“Hiu dan pari laut lepas sangat berperan penting bagi kesehatan ekosistem laut, tapi karena mereka hidup tersembunyi di bawah permukaan laut, sulit untuk mengukur dan memantau status mereka,” kata Nathan Pacoureau dari Simon Fraser University, Kanada.

“Penelitian ini menggambarkan teori global pertama dari kondisi spesies ini di saat yang bersamaan negara-negara sedang mengampanyekan misi dunia global yang berkelanjutan,” Pacoureau menambahkan.

“Awalnya kami bermaksud menjadikan ini sebagai laporan. Sekarang, kami berharap ini juga bermanfaat sebagai alarm untuk mengambil tindakan nyata,” dia menegaskan. (detikcom)

 

- Advertisement -

Komentar Disini

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA TERKINI

Viral Teror Debt Collector Tagih Pinjaman Online, Ini Respons OJK

Jakarta - Viral di media sosial Twitter seorang warganet mengaku dirinya diancam oleh debt collector pinjaman online. Ancaman itu bermula ketika ia menerima pesan WhatsApp...

Penerimaan CPNS dan PPPK 2021 Segera Dibuka, Ini Kuota dan Formasinya

Jakarta - Pemerintah berencana membuka penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) maupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) 2021. Penerimaan CPNS dan PPPK ini dibahas...

Tenggelam di Danau Selama 6 Bulan, iPhone 11 Masih Bisa Menyala

Jakarta - Kisah iPhone yang mampu bertahan setelah tenggelam sekian lama kembali terjadi. Kali ini, kisah tersebut dialami oleh pasangan penyelam asal Kanada bernama Clayton Helkenberg dan...

Film Fast and Furios Ternyata Telah Hancurkan 1.400 Lebih Mobil Selama Syuting

Jakarta - Film Fast and Furious berhasil menyedot penonton disetiap penayangannya. Lewat aksi kebut-kebutan dengan mobil modifikasi, sampai aksi menegangkan terjun dari pesawat menggunakan mobil, berhasil membius penonton. Namun,...

TERPOPULER

Kalimat Khusnul Khatimah atau Husnul Khatimah, yang Tepat Ya?

Jakarta - Masyarakat masih banyak yang ragu memilih kalimat antara khusnul khatimah atau husnul khatimah. Padahal, setiap kata memiliki arti yang berbeda. Biasanya, kalimat khusnul...

“Kupas” PT.Karapoto Bersama OJK dan DPRD

TERNATE,Beritamalut.co-Komisi II DPRD Kota Ternate, Kamis (8/3/2018) gelar pertamuan dengan pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) wilayah Sulawesi Utara, Maluku Utara dan Gorontalo, kemudian dari...

Seorang Mahasiswi Ditemukan Meninggal di Halaman Tempat Tinggalnya

TERNATE, Beritamalut.co - Warga Kelurahan Sasa, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate digegerkan dengan penemuan sesosok mayat jenis kelamin perempuan yang diketahui bernama Aprilita Suryanti...

Ketika Ternate Mendadak Seperti Kota di Eropa

TERNATE, Beritamalut.co-Kota Ternate, dari pagi hingga sore tadi mendadak dipadati turis mancanegara setelah kapal pesiar MS Artania sandar di pelabuhan A. Yani, Ternate, Jumat...

Jembatan Temadore Solusi Jalur Penghubung Ternate-Maitara-Tidore

MAITARA,Beritamalut.co-Konsep pembangunan jembatan penghubung antara pulau Ternate, Maitara dan Tidore (Temadora) dapat menjadi pilihan sebagai jalur penghubung antara tiga daerah itu dan sekitaranya. Inilah yang...

Seorang Ayah di Ternate Barat Tiga Kali Setubuhi Putri Kandungnya

TERNATE, Beritamalut.co - Seorang warga di Kecamatan Ternate Barat inisial R alias Man yang sehari-hari sebagai sopir angkot babak belur diamuk warga, Rabu (14/10/2020)...